Kelas Politic of Energy


Museum Enerji yang terletak di Kampus Bilgi

Sejauh ini, kelas Politic of Energy in International Relations, atau biasa kusingkat dengan sebutan ‘kelas enerji’ adalah mata kuliah favorite ku. Karena di kelas ini aku merasa kalau aku bisa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Professor D.K. Mengapa? Hal ini bukan dikarenakan aku tergila – gila dengan kasus politik yang berkaitan dengan enerji. Bukan pula dikarenakan aku ahli dan memiliki cita-cita untuk menjadi seorang yang ahli dalam menciptakan enerji yang berkesinambungan dan bisa diperbaharui. Aku merasa bisa mengikuti mata kuliah ini, karena tidak ada teori politik khusus yang harus dipelajari untuk mengikuti mata kuliah ini. Dan lagi, beberapa bulan terakhir aku agak sedikit keranjingan membaca artikel yang berhubungan dengan perebutan kekuasaan minyak bumi, melalui artikel – artikel yang dikirimkan Sebastian kepadaku untuk kemudian didiskusikan bersama Sebastian.

Professor D.K masih tergolong muda, jika dibandingkan dengan dosen – dosen lain di mata kuliah lain. Namun, pengetahuan Professor D.K di bidangnya tidak perlu diragukan. Bukan itu saja, Beliau juga sangat enerjik dan aktif ketika mengajar. Selama tiga jam pelajaran, bisa dikatakan hampir tidak ada jeda sama sekali. Proffessor D.K bersemangat sekali menjelaskan bagaimana enerji tidak bisa diproduksi. Enerji hanya bisa bertransformasi untuk memanaskan dan memindahkan suatu benda. Karena itu, untuk mengamankan dan menjamin ketersediaan enerji, sumber enerji tersebut harus aman untuk digunakan, terjangkau, bisa diandalkan dalam penggunaan, dan juga berkeseinambungan untuk pemakaian pada periode waktu yang panjang.

Dalam mengilustrasikan pelajaran, Professor D.K lebih sering menggunakan papan tulis ketimbang proyektor yang tersedia di setiap ruangan. Biasanya, setengah jam sebelum kelas dimulai, Professor D.K sudah tiba. Beliau akan langsung menuju papan tulis, menggambar diagram beserta anak-anak panah untuk mengkorelasikan suatu hubungan di dalam enerji politik. Setelah kelas dimulai tepat pada pukul 2 siang, Beliau akan menutup pintu kelas dan memulai pelajaran dengan bersemangat. Caranya mengajar sangat menarik, seperti bisa menghipnotis seluruh kelas tatkala menjelaskan tantangan yang dihadapi untuk mencapai jaminan enerji. Beliau seperti menceritakan sebuah kisah, membawa kami ke abad lampau tatkala sumber enerji ditemukan melalui mesin uap.

Begitupun, Professor D.K tampaknya bukan orang yang bisa diajak main-main dalam berkuliah. Beliau langsung menekankan di hari pertama kami kuliah,

Well, aku tidak suka jika ketika aku menerangkan kalian membuat keributan. Ini aturan pertama. Jika tidak berkenan, pintu terbuka lebar,”

Dan beliau juga menambahkan,

“Aku tidak memberikan nilai berdasarkan persentasi kedatangan. Namun, bisa kupastikan, jika kalian tak masuk ke kelas, kalian tak akan bisa menjawab soal-soal ujian yang kuberikan untuk ujian semester dan paruh semester,” pernyataan yang ini membuat Abdurrahim ketar ketir.

Mahasiswa peserta kuliah juga beragam seperti kelas – kelas sebelumnya. Jumlah total seluruh kelas sekitar 16 orang. Separuh isi kelas adalah mahasiswa yang berasal dari Turki. Selebihnya adalah mahasiswa internasional. Ada yang berassal dari Slovakia, Jerman, Somalia, Nigeria, Tanzania, Amerika, Afghanistan, Perancis, Indonesia (aku sendiri), dan Syria. Laz, tentu saja ada disana. Di hari pertama  kuliah, dia sudah memohon agar nanti ketika menjelang ujian, aku bersedia untuk meminjamkannya buku catatan. Aku hanya menjawab dengan ‘Hmm’.

Maria, juga ada di kelas enerji, begitupula mahasiswa berjilbab yang dari Syria itu yang kulihat di kelas Methodology juga. Satu lagi, mahasiswa asal Somalia yang kulihat di dua kelas lainnya juga ada di sana. Meskipun aku sering melihatnya mengobrol dengan Umarah, aku belum pernah berbicara secara langsung dengannya. Si mahasiswa ini kelihatan seperti kutu buku. Dia selalu membaca sesuatu dari laptopnya. Hari itu, saat istirahat selama sepuluh menit sebelum melanjutkan sesi kedua, aku melihatnya berdiri sendirian di balkon. Tak ada orang di sana. Kuberanikan diri untuk menegurnya.

“Hi. Aku melihatmu di dua kelas yang lain. Namaku Nurul, senang berkenalan denganmu,” aku menyodorkan tangan untuk bersalaman. Sejenak, kulihat dia agak ragu untuk menyambut uluran tanganku. Namun, akhirnya kami bersalaman juga.

“Hi. Namaku Nasir. Senang berkenalan denganmu,”

Sejak itu, Nasir menjadi salah satu sahabatku selama dua tahun ke depan.

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s