Reflection Paper, Tugas Pertama Kelas Methodology


Image source: https://www.trentu.ca/academicskills/how-guides/how-write-university/how-approach-any-assignment/how-write-reflection-paper

Sejak debat pertama di kelas Theory of IR, aku dan Intissar semakin dekat. Kami mulai sering berhubungan melalui whatsapp, sekedar menanyakan kabar, membuat janji ketemu di luar kampus, atau membuat jadwal belajar bersama. Urusan belajar bersama ini, tidak kami terapkan untuk mata kuliah Theory of IR saja. Namun juga di dua mata kuliah lain, dimana kami mengambil mata kuliah yang juga sama, yakni di kelas Methodology dan Politic of Energy. Di mata kuliah Politic of Energy kami tak terlalu keteteran. Karena materi yang disampaikan oleh Professor D.K adalah masalah-masalah kontemporer yang lagi hangat-hangatnya di media. Jika rajin membaca berita dan artikel-artikel yang dikirimkan oleh Professor D.K, maka tak akan terlalu kesulitan untuk mencerna pelajaran di kelas.

Aku senang sekali telah mengenal Intissar. Bersama Intissar, aku merasa lebih bisa mengekspresikan diri dan kebingunganku. Bersama Intissar pula aku bisa lebih mengerti akan materi kuliah yang kami pelajari. Well, Nasir dan Maria sebenarnya selalu senang hati untuk mengajariku jika aku tengah kebingungan. Namun, kurasa tingkat kebingungan dan kepahaman kami yang terlalu jauh berbeda, membuatku sulit untuk mencerna kata-kata mereka.

Minggu pun berganti. Saatnya untuk mengirimkan tugas reflection paper untuk mata kuliah Methodology. Professor E.E tidak menjelaskan begitu terperinci tentang reflection paper ini. Atau Beliau sudah menjelaskan, namun aku saja yang tetap lola alias loading lama dengan penjelasan Beliau. Professor E.E. berkata “Kamu bisa tulis apa saja yang bisa kamu kritisi dari tulisan tersebut.”

Tak peduli siapapun yang bertanya, jawaban professor E.E tetap sama. “Jangan khawatir. Begitu kalian mulai menulis, kalian akan tahu apa yang akan kalian kritisi. Pilih artikel yang kukirim, yang sesuai dengan minat kalian,” katanya lagi.

Tak jarang, usai kuliah aku, Nasir, Sera, Anil, Hille, dan Fatih berkumpul usai kuliah untuk membicarakan reflection paper ini. Oh ya, sekarang aku punya kebiasaan baru, ngopi bareng atau sekedar menyeruput teh dengan orang-orang diantara waktu pergantian kelas. I can say that my student life is getting better day by day. Kami tak hanya kumpul-kumpul saja. Namun membahas mata-mata kuliah yang membingungkan (di sini aku kebanyakan diam saja karena kadar kebingungan yang berbeda). Namun, dalam pertemuan ini, kami juga banyak bercerita hal lain di luar topik pelajaran. Seperti culture dari negara masing-masing orang. Teman-temanku selalu excited mendengar segala sesuatu tentang Indonesia. Kurasa, mereka tak banyak bertemu dengan orang Indonesia sebelumnya. Dan aku juga tak pernah bertemu mahasiswa asal Indonesia selama berkuliah di kampus Bilgi.

Nurul. One day, you have to cook Indonesian food for us,” kata Hille bersemangat.

Kembali ke reflection paper. Dua minggu sebelum pengumpulan, aku sudah mulai mengerjakan paper ini. Seperempat dari isi paper berupa rangkuman dari isi artikel. Sisanya, seperti kata professor E.E adalah isi pikiranku sendiri. Dan, benar seperti kata professor E.E. Begitu mulai menulis, aku menemukan beberapa ketidakcocokan dari tulisan sang penulis. Aku mengumpulkan beberapa hal yang tak sesuai dengan jalan pikiranku. Lalu, memberikan alasan ilmiah mengapa aku tak cocok dengan apa yang dituliskan oleh penulis. Alasan ini bisa juga didapatkan melalui pengalaman pribadi. Tanpa terasa, 1000 kata sudah tertulis. Jumlah itu sudah mencukupi jumlah minimal kata penulisan. Dua hari sebelum deadline, aku sudah memasukkan paper mealui Blackboard Learning System.

Blackboard ini adalah program komputer yang digunakan kampus Bilgi untuk mendukung sistem belajar mengajar. Dengan log in melalui sistem, para profesor bisa mengupload silabus pelajaran, materi kuliah dan membuat pengumuman. Dengan masuk ke sistem, kami para mahasiswa juga bisa langsung mendownload materi kuliah, sehingga kami bisa membacanya sebelum kuliah dimulai. Melalui sistem ini pula, kami terhubung dengan Turnitin, sistem yang bisa mendeteksi plagiarism atau penciplakan karya tulis. Dengan mengupload tugas di Blackboard, dalam sepuluh menit saja, kami bisa segera tahu kadar persentase kesamaan dalam penulisan. Kadar persentase maksimum adalah 20 hingga 25 persen. Lebih dari itu, bisa tidak lulus. Jadi, berhati-hatilah dalam penulisan dan permainan kata-kata.

Tiga hari setelah jadwal pengumpulan, Professor E.E mengumumkan nilai melalui Blackboard. Aku mendapat nilai 10 dari 10. Dalam arti kata, nilai sempurna. Aku hampir tak percaya dengan keberuntunganku. Kupikir, mendapat nilai 7 saja aku sudah akan senang sekali. Intissar juga mendapat nilai bagus. Nasir, Sera, dan Maria, ngga perlu ditanya. Sudah bisa ditebak dari keaktifan mereka di dalam kelas. Hampir semua orang yang kukenal mendapat nilai 9 ataupun 10. Awalnya, kupikir Professor E.E agak royal memberikan nilai kepada semua orang, sampai salah satu teman, Erdal, begitu kami memanggilnya memberitahuku dengan sedikit kesal, “Oh. Aku cuma mendapat nilai 7” katanya sambil cemberut.

“Hey, Nasir. Kau tahu. Erdal mendapat nilai 7 untuk reflection paper. Ternyata, aku tak bodoh-bodoh amat ya,” laporku pada Nasir.

“Sudah kukatakan sejak dulu. Kau pasti bisa. Kau saja yang terlalu khawatir dan takut”

Aku sedikit kasihan pada Erdal. Untuk membesarkan hatinya, kukatakan, “Tenang saja Erdal. Ini baru nilai satu tugas saja. Masih ada banyak tugas lagi. Kesempatan untuk dapat nilai A masih besar”.

Aku tak bermaksud senang dengan kesedihan si teman, namun fakta ini membuatku sedikit lebih percaya diri. Aku selalu merasa orang paling bodoh di dalam kelas. Aku selalu merasa tak mengerti apa-apa. Aku selalu merasa aku akan mendapatkan nilai rendah. Bahkan, ketika melihat nilai bagus pun, aku masih meragukan nilaiku sendiri dengan mempunyai pikiran bahwa professorku merasa kasihan kepadaku. Dengan adanya fakta bahwa nilaiku lebih bagus dari sebagian orang, membuatku merasa bahwa aku bisa jika aku berusaha. Percaya diriku mulai tumbuh perlahan-lahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s