Kesepian di Istanbul


Akhirnya, beres segala urusan pencarian rumah. Dua hari setelah melunasi pembayaran dengan Mustafa, aku pindah ke flat baru, dan tak sabar untuk memulai hidup baru. Di hari kepindahanku, aku tidak langsung datang ke flat, karena masih harus mengambil kunci dari Mustafa. Salah satu kran air di kamar mandi perlu diganti, dan Mustafa berjanji untuk menggantinya sebelum aku pindah.

Aku tiba di kantor Mustafa pukul 2 siang. Namun, dia tak ada di sana. Yang ada, hanyalah Mehmet Bey, ayah Mustafa yang menyambutku dengan sangat ramah.

Gel, Nur,” sambutnya. Mehmet Bey langsung membuatkanku segelas Turkish Tea begitu aku duduk. Setengah jam kemudian, Mustafa tiba.

Oh. Sorry Nurul for kept you waiting. I showed some flats to some people,” dia langsung duduk di mejanya. “Since I still need to do some works, you may go directly to your flat with my father,” katanya.

“Oh. Tidak apa. Aku tunggu kau saja,” jawabku. Aduh, Mustafa ini bagaimana sih. Perlu 10 menit berjalan kaki dengan jalanan menanjak untuk menuju flatku dari sini. Dan aku membawa dua buah tas besar. Satu tas berisi barang keperluan dan pakaian dengan berat hampir 30 kg. Masa aku minta bantuan pada ayahnya yang sudah tua.

Setengah jam berlalu, namun belum ada tanda – tanda Mustafa menyelesaikan pekerjaannya. Akhirnya, dia berkata lagi, “Nurul. That’s fine. My father can help you. If you wait for me, it will take for hours. If you have problems at your flat, I will come in the evening, after work,”. Kali ini aku menyerah. Aku tak mau menghabiskan sepanjang sore untuk terduduk di sini.

Dengan terseok – seok, aku dan Mehmet Bey berjalan menyusuri jalanan kecil menuju flatku. Syukur, aspal nya bagus. Jika tidak, akan semakin susah untuk membawa dua tas besar ini. Akhirnya, kami tiba. Flatku tarletak di lantai satu, dan aku masih harus membawa dua tas ini ke atas. Mehmet Bey menolongku untuk mengangkat tas yang paling berat. Aku mengomeli Mustafa di dalam hati, karena tega membuat ayahnya mengangkatkan tasku yang berat ini. Mehmet Bey menyetel segala macam saklar, tombol, dan menunjukkan letak water heater sebelum dia undur diri.

Dua hari telah berlalu sejak kepindahanku ke flat baru. Aku sudah mulai ‘settle‘ dengan tempat tinggalku yang baru. Lingkungan tempat tinggalku yang berada di kawasan Harbiye, letaknya sangat strategis. Halte bus hanya berjarak lima menit berjalan kaki, dengan rute yang menjangkau hampir seluruh sudut kota. Stasiun Metro (kereta bawah tanah) terdekat, agak sedikit jauh, berjarak sekitar 600 meter. Taksim square yang terkenal hanya dua berjarak dua pemberhentian bus saja. Jika aku tak capek, aku bisa berjalan kaki ke sana. Kawasan Nisantasi, yang terkenal dengan kaum elite nya hanya berjarak sepuluh menit jalan kaki saja. Lokasi yang strategis ini membuatku gampang untuk kemana – mana.

Namun, setelah dua hari berkeliaran, aku mulai dihampiri perasaan sendu. Perasaan sepi yang kerap kurasakan selama tinggal di DRC.

Do not worry, Amiga. It is normal when you are living abroad,” Vic, sahabat Uruguay ku berusaha menenangkanku ketika aku meneleponnya di siang bolong. “Wait for couple of weeks, and you will be surrounded by amazing people,”

Yes. Aku kesepian. Aku tinggal di negara dan kota yang baru. Aku tak mengenal siapapun disini. Oke, aku punya dua contact numbers, Sarah dan Okan. Sarah adalah teman dari temanku Bella. Setelah fix dengan keputusanku untuk tinggal di Istanbul, Bella mengenalkanku pada Sarah, teman satu SMU nya yang sekarang menetap di Istanbul. Aku sudah berkomunikasi dengan Sarah melalui WhatsApp. Saat ini Sarah sedang memiliki visitors di rumahnya, dan kami setuju untuk ketemuan dua minggu ke depan. Sementara Okan, temanku Riza memperkenalkanku pada temannya yang berasal dari Turki. Saat ini Okan sedang berada di Italia untuk liburan bersama keluarganya, dan kami setuju untuk menyusun jadwal setelah Okan kembali dari Italia. Aku belum mengenal tetangga – tetanggaku. Sejauh ini yang kukenal hanyalah tetangga yang memiliki toko bahan kebutuhan sehari – hari, yang letak tokonya di lantai dasar gedung flat ku. Sementara tetangga sebelah flat, kami baru bertatapan muka saja ketika kebetulan sama – sama meninggalkan flat, dan bertukar nama. So, disinilah aku. Di kota nan cantik, tanpa teman dan saudara.

Menjelang sore, aku memutuskan untuk berjalan – jalan untuk membunuh rasa sepi. Kupilih bus jurusan Besiktas, karena aku belum pernah mengunjungi kawasan ini pada kunjungan – kunjunganku sebelumnya. Kubeli sebuah simit, kue keras berbentuk donat besar yang banyak tersedia di sepanjang dermaga. Saat itu sore, menjelang senja. Kuamati kapal – kapal yang tiba dan meninggalkan pelabuhan, dengan langit jingga di belakangnya. What a beautiful scenery.

Besiktas, Kala Senja Menjelang

Ketika malam tiba, kurasakan mood ku sudah menjadi lebih baik. Aku pulang, dan mengambil bus nomor DT2 dari Besiktas menuju Harbiye. Saat aku tiba di flat, kutemukan sebuah note tertempel di pintu rumahku. Ternyata itu dari Mastona, tetanggaku yang berasal dari Tajikistan, yang tinggal di sebelah flat ku. Dia mengundangku untuk minum teh di tempatnya.

My first tea invitation from Mostana, my Tajikistan neighbor. It’s so sweet, isn’t it?

This note really made my day. Sebuah undangan sederhana, yang diberikan secara tulus, namun bisa menceriakan hariku yang sepi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s