Evening Tea Dengan Mastona


Turkish Tea

Di Jumat sore, aku bersiap – siap menuju flat Mastona. Kurasa, bersiap – siap agak terlalu membesar-besarkan, karena flat Mastona terletak tepat di depan pintuku. Kami sebenarnya bisa dikatakan tinggal di dalam satu flat. Yang memisahkan kami hanyalah ruang penghubung berukuran 2 meter persegi saja. Ruang penghubung ini memiliki satu pintu keluar, dimana aku dan Mastona memiliki anak kunci yang sama, yang menghubungkan kami pada tangga di luar flat kami.

Sama sepertiku, Mastona juga mendapatkan flat ini melalui Mustafa. Flat Mastona juga  bermodel studio, dimana ruang tidur menyatu dengan dapur. Perabotan dan peralatan dapur kami mirip. Kukira, flat ini juga dimiliki oleh pemilik yang sama. Yang membedakan flat kami adalah luas nya. Flat Mastona sedikit lebih besar dibandingkan dengan flat ku. Oh ya, Mastona ini tengah melakukan internship di salah satu United Nations Agencies di Istanbul, untuk melengkapi salah satu mata kuliah yang harus diselesaikannya di Central European University yang berlokasi di Budapest.

“Oh Nur, Kau sudah tiba. Silahkan masuk,” sambut Mastona ceria.

Mastona mempersilahkanku masuk, dan aku memberikan sekotak permen kacang yang kubawa dari Indonesia.

What’s wrong with your flat, Mastona. Are you moving?” tanyaku meilihat tumpukan kotak di sudut kamar.

I am not moving. Actually, I am leaving,” jawab Mastona. “My internship was over and I must return to Budapest before the end of the month,”

Oh too bad. We’ve just known each other,” jawabku.

Well, yeah. I wish I could stay longer. But my school will start in first week of September,”

Mastona membuatkanku Turkish Tea dan special soup dari Tajikistan. Kami menghabiskan sepanjang  malam dengan mengobrol seru. Obrolan kami berputar sekitar Mustafa (tentu saja), kehidupan di Turki, United Nations (kami bicara lama tentang ini, secara Mastona juga bekerja di United Nations ketika di Tajikistan) dan aku juga pernah bekerja di lembaga ini), kudeta militer yang baru saja terjadi, tetangga yang tinggal di depan flat yang selalu berteriak kepada suaminya, hubungan antar bangsa (Mastona tengah mengambil strata 2 di Budapest untuk jurusan Public Policy, sementara aku akan mengambil International Relations sehingga kami punya banyak hal yang bisa dibahas). Tanpa terasa, sudah tiga jam berlalu dan kupikir sudah saatnya aku undur diri.

“Bagaimana jika kutambah segelas teh lagi?” tanya Mastona. Pembicaraan berlanjut hingga lima jam ke depan. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi, ketika aku tak sanggup untuk menahan diri agar tidak menguap. Akhirnya, aku benar-benar harus undur diri.

Thanks for coming, Nur. That was really pleasant evening. Seriously, now I am really sad to leave Istanbul very soon,” kata Mastona ketika melepasku.

Thanks for inviting me, as well, Mastona,” balasku. “Kau tahu, aku benar – benar kesepian beberapa hari terakhir ini,”

Setelah mengucapkan selamat malam satu sama lain, aku meninggalkan Mastona. Sayang sekali, kami baru saja bertemu dan merasa cocok satu sama lain. Namun, aku akan kehilangan Mastona di dua minggu ke depan. Namun satu hal yang kupelajari hari ini, making friends is not that difficult.  

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s