Edirne, Kota Di Perbatasan Tiga Negara


Di satu akhir pekan, setelah menyelesaikan ujian akhir semester mata kuliah Politic of Energy, aku memutuskan untuk melakukan perjalanan agak jauh. Kali ini tujuanku adalah Edirne. Dengan hanya berjarak sekitar 234 km dari Istanbul, aku sebenarnya bisa saja melakukan perjalanan pulang pergi dalam sehari. Edirne bisa ditempuh selama dua jam perjalanan dengan menggunakan bus dari Istanbul. Namun, hari itu aku ingin berjalan-jalan dengan sedikit santai tanpa terburu-buru. Aku memilih untuk menginap sehari di Edirne.

Yang membuatku tertarik untuk mengunjungi Edirne adalah kota ini kaya akan sejarah. Kota ini pernah  didaulat untuk menjadi ibukota kerajaan Ottoman, sebelum pindah ke Istanbul. Satu hal lagi yang membuatku tertarik untuk mengunjungi Edirne adalah letaknya yang berada di daratan paling Barat Turki, yang langsung berbatasan daratan dengan  dua negara lainnya, yakni Bulgaria dan Yunani. Fakta ini membuatku semakin penasaran untuk melihat kota di perbatasan tiga negara.

Meskipun Edirne bisa ditempuh selama dua jam saja dari Istanbul, aku tak ingin pergi terlalu sore. Aku tak terlalu suka tiba di satu kota asing ketika mentari mulai redup. Membuatku repot untuk mencari-cari alamat hotel. Maka, jadilah, di Jumat pagi, aku meninggalkan apartemenku menuju stasiun bus Istanbul  menuju Edirne. Hari itu aku bangun kesiangan, sehingga membuatku begitu tergesa-gesa sehingga tak sempat untuk sarapan. 

Aku tiba di stasiun bus, dan berhasil mendapatkan tiket bus untuk keberangkatan pukul 12 siang. Ketika duduk di atas bus, aku mulai merasa lapar. Sayangnya, tak ada restoran yang menjual makanan berat di dekat stasiun. Sementara bus akan berangkat dalam waktu 15 menit ke depan. Namun, aku beruntung hari itu. Seorang gadis cantik, duduk di belakang kursiku. Ketika aku tengah membenahi tas dan memasukkan jaket ke kabin di atas kursi, si gadis cantik menegurku. Kami pun berkenalan. Ternyata si gadis bernama Elise, seorang perawat di salah satu rumah sakit di Istanbul. Dia dalam perjalanan untuk mengunjungi kakaknya di Edirne. Kamipun bertukar kisah. Tiba-tiba, Elise memberikanku beberapa potong besar kue pie apel.

“Ini buatan ibuku, Nurul. Semoga kau suka. Aku senang sekali berkenalan denganmu,” katanya. Padahal aku tak bercerita jika aku tengah kelaparan. Aku tak henti-hentinya berterima kasih kepada Elise. Di saat perut ini kelaparan, bahkan tanpa meminta, Tuhan mengirimkan malaikat seperti Elise untuk menolongku. Kue pie itu kue pie terenak yang pernah kumakan.

Bus mulai berjalan perlahan, meninggalkan Istanbul. Satu hal yang kusuka dari sistem transportasi di Turki adalah bus antar kotanya yang bagus dan nyaman. Ketika bus baru berangkat, pak kondektur membagikan snack dan minuman kepada para penumpang. Bus meluncur pelan, dan lama – lama bertambah kencang meninggalkan Istanbul di belakang kami. Setelah meninggalkan pusat kota, pemandangan semakin indah saja. Kami melewati kawasan perdesaan dengan hamparan lahan hijau yang luas. Pemandangan indah ini membuat mata tak mengantuk.

The bus that took me to Edirne.
Somewhere between Istanbul and Edirne.
Somewhere between Istanbul and Edirne.
Somewhere between Istanbul and Edirne.

Setelah dua jam, kami tiba di stasiun bus Edirne. Disini, aku dan Elise berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing. Tujuanku adalah pusat kota. Aku sudah memesan sebuah kamar di hotel Efe. Aku memanggil taksi untuk membawaku ke hotel. Hotelku terletak di lokasi strategis. Tak jauh dari Mesjid Selimiye dan jalan Saraçlar yang terkenal. Ketika aku tiba, sudah lewat tengah hari. Setelah check in, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar lokasi hotel saja. Karena dalam dua jam ke depan, matahari akan segera tenggelam.

Edirne Bus Station, Turkey.
Efe Hotel

Edirne, atau sebelumnya dikenal sebagai Adrianople adalah sebuah kota yang terletak di bagian Barat laut Turki. Kota ini didirikan oleh kaisar Romawi, Hadrian. Namun, di abad ke 14, kesultanan Ottoman merebut kota ini. Sultan Murat I menambahkan kota ini sebagai bagian dari kerajaan Ottoman. Beliau juga memindahan ibukota kerajaan dari Bursa ke Edirne. Edirne menjadi ibukota kerajaan hampir selama 100 tahun, sampai penaklukan Konstantinopel yang dilakukan oleh Fatih Sultan Mehmet. Meskipun keluarga kerajaan telah pindah ke Istanbul setelah penaklukan, namun Edirne tetap menjadi salah satu kota terpenting pada masa kerajaan Ottoman dan berstatus sebagai semi-ibukota kerajaan. Di tahun 1700 hingga 1750, Edirne juga dikenal sebagai salah satu kota terpadat nomor empat di Eropa, dengan populasi berjumlah sebanyak 350.000 penduduk. Perubahan secara drastis terjadi di abad ke 19. Pengurangan penduduk yang cukup tinggi terjadi sejak perang Russo-Turkish di tahun 1829. Perang lain dengan kerajaan Rusia terjadi lagi di tahun 1878, bersamaan dengan perang Balkan di akhir abad 19 dan awal abad ke 20, yang akhirnya menimbulkan pengurangan penduduk yang lebih besar. Ketika Perang Dunia II terjadi, tentara nazi yang hanya berada beberapa mil saja dari kota, memaksa warga kota pindah ke bagian lebih dalam Turki. Sementara orang-orang yang tak mampu pindah, meninggal akibat kelaparan di masa itu. Sekarang, Edirne hanyalah berupa kota kecil, dengan sisa-sisa peninggalan di masa lampau. Kota ini kalah tenar dengan kota-kota lain di Turki, seperti Istanbul, Ankara, Izmir, dan sebagainya. Namun, kota ini tak kehilangan pesona. Dengan gedung-gedung tua, bazar, dan jalanan kecil yang dilapisi cobble stone, Edirne menawarkan pengalaman tersendiri buat pengunjungnya.

Aku memulai tur dari depan hotel Efe. Tepat di depan hotelku terdapat sebuah bangunan mirip tugu. Di sekitarnya, tidak ada keterangan lebih lanjut. Mungkin tugu ini hanyalah sebuah reruntuhan dari satu bangunan yang sudah diruntuhkan. Di depan tugu adalah tempat mangkalnya taksi – taksi. Aku terus berjalan melewati Mesjid Selimiye yang akan kukunjungi esok hari. Di dekatnya, terdapat Bazar AliPasa, versi kecilnya Grand Bazar di Istanbul. Tak jauh dari sana, terdapat balai kota Edirne. Gedungnya mirip gedung-gedung tua di Eropa. Di bandingkan Istanbul, Edirne kelihatan lebih tua, namun lebih tenang.

The old monument, in front of Efe Hotel.
Edirne municipality.
Salah satu sekolah perdagangan di Edirne.
Salah satu sekolah perdagangan di Edirne.
A bridge in Edirne.

Aku pun terus berjalan. Kali ini tujuanku adalah Saraçlar Caddesi atau jalan Saraçlar. Jalan ini adalah salah satu jalan paling terkenal di Edirne, dengan toko-toko dan restoran di kiri kanan jalan. Kendaraan tidak diizinkan masuk. Jalanan ini hanya dilalui oleh pejalan kaki saja. Jika dilihat lebih jauh, jalan ini mirip seperti jalan Istiklal di Istanbul. Banyak terdapat air mancur di sepanjang jalan.  Di pertengahan jalan, ada sebuah air mancur yang menjadi ikon Jalan Saraçlar.  Nama air mancur ini adalah Fountain of Love. Air mancur ini menjadi lambang perdamaian dan kebebasan yang mewakili anak muda Republik Turki. Jika lelah berjalan, jangan khawatir. Bangku – bangku tersedia di sepanjang jalan sebagai tempat melepas lelah.

Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
One window at Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Chairs are available along the street at Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Clock Fountain at Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Mermaid Fountain at Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.
Fountain of Love, Saraçlar Caddesi, Edirne, Turkey.

Karena hari mulai gelap dan perutku belum dimasuki makanan berat sejak pagi, aku pun mencari restoran untuk mengisi perut. Karena perut terasa semakin keroncongan dan aku berada di depan restoran Mado, aku masuk saja ke sana. Seorang petugas restoran mendatangiku. Oh la la, menu Mado disini semuanya berbahasa Turki. Tak ada menu yang berbahasa Inggris. Ketika kutanya sang petugas, dia hanya menjawab, “Ben, Inglizce Bilmiyorum”. Artinya, aku tak bisa berbahasa Inggris. Sesuatu yang rasanya agak janggal, karena setiap kali aku ke restoran Mado di Istanbul, paling tidak petugasnya bisa berbahasa Inggris meskipun tidak lancar. Akhirnya, kutunjuk saja salah satu gambar yang tertera di atas menu.

Usai makan, hari sudah gelap. Kuputuskan untuk segera kembali ke hotel. Aku tak mau berkeliaran di tempat asing di malam hari jika lingkungannya belum kukenal dengan baik. Ditambah mata yang sudah rabun, akan sangat mudah untuk tersasar. Aku tak terlalu pintar dalam bernavigasi. Lagipula, suhu pun mulai turun lagi. Suhu di Edirne lebih dingin dibandingkan dengan Istanbul. Tersasar dan kedinginan di tempat asing adalah hal terakhir yang ingin kulakukan di Edirne.

3 comments

    • Benar Riyanti, kalau musim gugur tentunya semakin cantik dengan daun yang berwarna-warni. Hanya berjalan-jalan di pinggir jalan pun sudah membuat hati senang. Aku selalu bilang dengan teman-teman dari negara subtropis, betapa beruntungnya mereka memiliki empat musim. Sementara mereka bilang, beruntungnya kamu bisa melihat matahari tiap hari 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s