Akhir Tahun Pertama di Istanbul


Seminggu sebelum akhir tahun, temanku Nita yang tengah bermukim di Qatar menghubungiku.

“Nurul. Aku masih ada jatah dua hari libur sebelum akhir tahun. Mungkin, aku bisa jalan-jalan ke Istanbul di akhir tahun untuk ketemu kamu”

Aku senang sekali menyambut kedatangan Nita, secara dia teman pertama yang mengunjungiku selama Aku tinggal di Istanbul. Nita tiba pukul 8 pagi. Namun, sejak pukul 6 pagi aku sudah bersiap-siap untuk menjemputnya di bandara Ataturk. Hari masih sangat gelap. Azan subuh pun belum berkumandang. Di musim dingin seperti ini, fajar baru tiba pada pukul 7 pagi. Ketika kubuka jendela kamar, hawa dingin langsung menerpa, hingga kusadari kalau wajahku basah. Ternyata gerimis. Kuundur waktu sejam lagi, menunggu hujan reda.

Tepat pukul 7 pagi, aku meninggalkan apartemenku. Hujan belum juga reda. Aku mengenakan mantel yang menggunakan tutup kepala. Untuk sementara cukup, karena hujan tak terlalu deras. Aku belum membeli payung sejak payung kedua yang kubeli dibulan ini patah setelah diterbangkan angin. Musim dingin di Istanbul berarti membeli payung lebih banyak. Di tengah perjalanan menuju stasiun kereta api bawah tanah, seorang lelaki tua menawarkan dagangannya, berupa payung-payung kecil berwarna transparan. Musim hujan juga membawa rezeki buat penjual payung. Meskipun payung ini tak terlalu kuat, cukuplah untuk melindungiku selama beberapa waktu. Walaupun hari masih gelap, namun stasiun kereta api bawah tanah sudah ramai sekali. Orang-orang mulai berangkat bekerja. Agak aneh menyaksikan orang-orang memulai hari ketika hari masih sangat gelap. Perjalanan ke bandara memakan waktu satu jam. Ketika aku tiba, pesawat Nita baru saja mendarat. Setengah jam kemudian, Nita keluar. Ini pertemuan kami pertama kali sejak lima tahun terakhir.

Karena hujan masih saja belum berhenti dan Nita membawa tas besar, kami menggunakan taksi bandara untuk kembali ke apartemenku. Setiba di sana, setelah beristirahat selama beberapa saat, kami pergi ke salah satu shopping mall, karena Nita mesti membeli mantel musim dingin. Dia tak menyangka musim dingin di Istanbul lebih dingin dibandingkan di Doha. Aku tak terlalu suka berjalan-jalan di mall. Namun, di tengah badai seperti ini, tampaknya mall adalah pilihan utama. Pemanas yang berjalan tanpa henti, membuat kami nyaman untuk berjalan-jalan. Sorenya aku membawa Nita berjalan-jalan ke Menara Galata. Kami tidak berniat untuk naik. Nita lebih tertarik utuk melihat-lihat toko souvenir yang banyak terdapat di sekitar Galata.

Galata Tower, Istanbul, Turkey.

Esonya, hari tak lebih cerah. Hujan kembali datang, namun tanpa salju. Nita tak berminat untuk mengunjungi objek wisata mainstream, karena ini bukan kunjungan yang pertama buatnya. Karena itu, kami memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat di dalam gedung saja. Kunjungan kami pertama pagi itu adalah ke Spice Bazar karena Nita ingin membeli beberapa bumbu dan Turkish delight. Itu kunjunganku yang pertama kali ke sana. Bazarnya tak terlalu luas. Dalam sejam, kami sudah selesai melakukan aktifitas jual beli dan melihat-lihat.  Aku menawarkan Bosphorus tour untuk aktifitas selanjutnya. Namun, melihat ombak yang agak besar, Nita pun mengurungkan niat. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi mengunjungi Mesjid Fatih.

Spice Bazar, Istanbul, Turkey

Mesjid Fatih adalah salah satu mesjid kerajaan Ottoman yang terletak di kawasan Fatih, Istanbul. Mesjid ini dibangun pada pada tahun 1463 hingga 1470. Mesjid ini adalah salah satu contoh arsitektur bergaya Islami Turki di Istanbul yang mewakili masa – masa penting berkembangnya arsitektur Turki klasik. Namanya sendiri diambil dari nama Sultan kerajaan Ottoman yang menaklukkan Konstantinopel di tahun 1453, Mehmet sang Penakluk, yang lebih dikenal dengan panggilan Fatih Sultan Mehmet. Mesjid ini pernah terbakar di tahun 1766, dan dibangun kembali di tahun 1771. Ketika dibangun pertama kalinya, mesjid Fatih memiliki satu buah kubah utama di tengah-tengah bangunan dengan diameter sepanjang 26 meter. Ketika mesjid direnovasi di tahun 1771 oleh Sultan Mustafa III, mesjid dibangun dengan bentuk bujur sangkar. Mesjid tetap memiliki satu kubah utama namun ditambah dengan empat kubah pendukung. Halaman mesjid, pintu masuk utama dan bagian yang lebih rendah dari menara-menara mesjid tetap mempertahankan bentuk asal, sementara sisanya dibangun dengan gaya arsitektur Baroque.

Interior mesjid pada saat ini adalah salah satu contoh design yang ditiru dari arsitek Sinan. Semetara kaligrafi dan mimbar lagi-lagi dipengaruhi oleh gaya arsitektur Baroque. Seperti mesjid pada masa kerajaan Ottoman pada umumnya, mesjid ini bukanlah sekedar tempat beribadah saja. Di kompleks mesjid terdapat madrasa, perpustakaan, rumah sakit, toko-toko, pasar, dapur umum, hamam dan karavanserai. Pada saat ini, rumah sakit, pasar, dapur umum dan hamam milik bangunan asli sudah tidak ada lagi. Di salah satu sisi halaman mesjid, terletak makam Fatih Sultan Mehmet dan istrinya, Gulbahar Hatun.

Fatih Mosque, Istanbul, Turkey
Fatih Mosque, Istanbul, Turkey
One corner at Fatih Mosque, Istanbul, Turkey
Interior of Fatih Mosque, Istanbul, Turkey
Interior of Fatih Mosque, Istanbul, Turkey
Interior of Fatih Mosque, Istanbul, Turkey
Interior of Fatih Mosque, Istanbul, Turkey
Interior of Fatih Mosque, Istanbul, Turkey
Detail of Dome, Fatih Mosque, Istanbul, Turkey.

Hari masih sore ketika kami kembali ke apartemen. Namun, keberuntungan tengah tak berpihak. Listrik mati. Hajar, tetangga sebelah menginformasikan bahwa listrik sudah mati sejak dua jam yang lalu. Kami beristirahat dengan tetap mengenakan jaket musim dingin. Namun, setelah setengah jam, rasanya mulai tak tertahankan. Kami memutuskan jalan-jalan ke luar, untuk menghangatkan diri di salah satu kafe. Tapi lagi-lagi keberuntungan tengah tak berpihak kepada kami. Di wilayah Taksim, Galata dan jalan Istiklal, listrik juga mati. Dan banyak cafe yang tak menggunakan genset. Sehingga, pemanas tetap tidak bisa dipergunakan. Kami pun meneruskan berjalan-jalan mencari cafe atau restoran yang menggunakan genset. Hingga di akhir jalan, kami masih tak menemukan cafe dengan listrik menyala. Kami sudah berada di Jembatan Galata. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, kami memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran di bawah Jembatan Galata. Kami makan dalam gelap.

Setelah makan, kami pun memutuskan untuk pulang saja. Lagipula pesawat Nita juga akan tinggal landas pada pukul 2 lewat tengah malam nanti. Nita mesti bersiap-siap. Untung, ketika tiba di apartemen, listrik sudah menyala kembali. Hal yang pertama kali dilakukan adalah menghidupkan pemanas dengan suhu setinggi mungkin. Sebelum tengah malam, Nita meninggalkan apamrtemenku, menuju airport untuk kembali ke Doha. Tak sampai setengah jam setelah Nita memberi tahu kalau pesawatnya akan take off, aku menerima pesan dari grup whatsapp teman-teman Bilgi yan memberi tahu kalau ada serangan teroris di salah satu klub malam terkenal di salah satu kawasan elit Istanbul. Istanbul mengawali tahun 2017 dengan berita duka.

5 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s