Mengapa Turki?


Istanbul, Turkey.

Kupikir aku bisa menghindari pertanyaan ini selama masih berada di Indonesia. Ternyata tidak. Ketika tiba di Istanbul, aku juga dihadapkan dengan pertanyaan serupa, baik dalam pertemuan formal, maupun Informal.

“Kenapa memilih Turki?” tanya Sera. Sera orang yang menyenangkan. Jadi aku tak keberatan untuk berbagi cerita.

“Apakah ada hal spesifik yang membuatmu tertarik untuk melanjutkan studi di Turki?” tanya Professor E.E saat acara perkenalan diri di dalam kelas Methodology. Kujawab, “Saya tertarik dengan masalah refugee, Professor. Karena itu, saya pikir, Istanbul adalah tempat yang tepat untuk belajar. Di mana saat ini ada sekitar lima juta refugee di negara ini. Belajar di negara yang bersangkutan, sambil menyaksikan fenomena tersebut secara langsung, akan memberikan saya perspektif yang lebih dalam untuk lebih mengerti terhadap isu ini.”

“Kok milih di Istanbul. Pasti mau dapat orang sini,” tanya seseorang di KJRI. Dan jawabanku adalah diam.

Memang, isu refugee adalah salah satu alasanku untuk tinggal di Istanbul. Aku sudah menaruh minat untuk mempelajari isu ini sejak kunjunganku ke salah satu refugee camp yang datang dari Rwanda di pelosok propinsi South Kivu di Congo. Fenomena meningkatnya jumlah refugee yang sangat significant di Turki membuatku tergerak untuk mempelajarinya lebih lanjut. Atau bertemu dengan para refugee secara langsung. Selama tinggal di sana, aku sempat menghadiri beberapa kegiatan sukarela bersama para pengungsi dari Syria, dimana aku berkesempatan untuk mendengarkan kisah-kisah mereka secara langsung. Mendengarnya, membuatku merasa malu jika mengingat aku masih sering mengeluh dengan hidup.

Namun, tentu ada beberapa alasan lain. Mungkin banyak yang bertanya-tanya. Apalagi, aku sudah diterima di salah satu universitas di Inggris. Jadi, jika ada yang bertanya baik – baik tanpa ada tujuan nyinyir, aku menyiapkan beberapa jawabannya buat mereka.

  1. Aku suka sekali dengan Istanbul. Tak perlu jadi jenius untuk menginterpretasikan ini, mengingat track record ku mengunjungi Istanbul. Siapa yang tak jatuh hati dengan kota yang dipenuhi minaret-minaret cantik, selat Bosphorus nan menawan, serta tembok-tembok benteng sisa kejayaan tiga kerajaan besar di masa lampau. Belum lagi sudut-sudut kota yang selalu memberikan kejutan, memberikan spot cantik untuk difoto. Sebagai mantan arsitek dan masih penikmat arsitektur, Istanbul adalah salah satu surga dengan gedung-gedung tua yang memadukan berbagai gaya arsitektur.
  2. Turki adalah negara sekuler dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Umumnya kebanyakan orang tak terlalu mengurusi hubungan antara manusia dengan penciptanya. Mau berkerudung atau tidak, mau melakukan apapun yang kusuka, terserahlah. Tak ada yang ambil pusing selama aku tak mengganggu harkat hidup manusia lain. Ketika tengah berada di suatu tempat, dan keinginan untuk berdekatan dengan sang pencipta muncul, aku tetap bisa dengan mudah menemukan mesjid. Menurutku, mesjid – mesjid di Turki lebih toleransi dibandingkan dengan mesjid di Indonesia. Misalnya, ketika aku tengah berada di suatu mesjid di satu propinsi di Indonesia, seorang teman tak diizinkan untuk masuk ke dalam mesjid, dengan alasan pakaiannya tidak Islami. Menurut pandanganku, pakaian sang teman sopan, hanya tak memakai kerudung saja. Dan dia selalu membawa mukena di dalam tasnya. Sang teman kecewa setengah mati karena tujuannya masuk ke mesjid untuk sholat. Aku pun tak kalah kecewa, bagaimana mungkin seseorang dilarang masuk ke dalam mesjid, padahal dia bertujuan untuk beribadah. Di Turki, banyak mesjid menyediakan jubah panjang untuk non-muslim ketika mereka ingin melihat mesjid. Sementara untuk orang yang mau sholat, selalu diterima dengan senang hati. Jubah panjang yang bisa dikenakan ketika sholat juga tersedia di dalam sebagian besar mesjid. Di Turki, jangan heran jika melihat pemandangan seperti, perempuan dengan rok mini atau jeans ketat datang ke mesjid. Di dalam sana, mereka menutup auratnya ketika sholat. Atau melihat pria-pria bertato yang mengambil air wudhu untuk ikut sholat berjamaah. Dan mereka selalu diterima untuk datang ke mesjid. Jadi, jangan pernah mengambil kesimpulan dengan hanya melihat penampilan seseorang, karena banyak hal lain yang tak kita ketahui tentang mereka. Bisa jadi, ibadah mereka lebih diterima daripada aku yang mengenakan kerudung ini. Biarlah Tuhan yang menilai semuanya. Hanya Tuhan yang bisa memutuskan siapa yang suci dan siapa yang tidak. Mengingat kejadian di Indonesia itu masih membuatku miris. Oh, siapakah kita ini yang menganggap diri sendiri lebih suci dari orang lain, sehingga tak mengizinkan orang tersebut untuk beribadah. Mesjid adalah rumah bagi siapa saja.
  3. Dengan isu Islamic phobia kupikir berada di Turki akan membuatku merasa lebih nyaman. Don’t get me wrong. Aku selalu tinggal di daerah di mana Islam adalah agama minoritas, termasuk ketika bekerja di Indonesia. Di Indonesia sih, sebenarnya tidak masalah. Namun, ketika berada di negara di mana Islam adalah minoritas, dan image Islam yang jelek dengan isu teroris dan sebagainya, membuatku sedikit lelah ketika harus menjelaskan Islam seperti apa yang kuanut. Aku ingin istirahat dari pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa betul, di Islam itu hukumnya wajib membunuh orang yang tidak seagama?” atau “Kau setuju dengan kelompok Islam garis keras yang memperlakukan perempuan seperti orang terbelakang?” Dalam keadaan normal, biasanya aku tak keberatan menjelaskan pandanganku soal Islam yang sangat jauh berbeda dengan apa yang mereka bayangkan. Namun, ketika ada berita serangan teroris yang sayangnya membawa nama Islam terjadi di suatu negara, menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi dan berulang kali membuatku lelah.
  4. Mudah mendapatkan makanan halal. Tinggal bertahun-tahun dimana Islam bukan agama mayoritas, membuat pilihan makanan yang bisa kumakan menjadi sangat terbatas. Aku mesti sering memasak, padahal memasak bukan hobiku. Tak banyak makanan halal yang tersedia, membuatku sering menjadi vegetarian dadakan. Di Turki, makanan halal ada di mana-mana. Ketika malas untuk memasak, aku tinggal pergi ke restoran kebab yang ada di ujung jalan.
  5. Istanbul adalah melting pot. Perpaduan antara barat dan timur. Banyak fasilitas hiburan yang bisa dinikmati. Dari museum, galeri, hingga konser musik klasik. Pelajar selalu mendapatkan harga khusus. Bahkan beberapa museum punya hari khusus dimana pengunjung dibebaskan dari biaya masuk.
  6. Bosphorus, tak pernah bosan berlayar di atasnya. Oh, yang sudah membaca kisah-kisahku sebelumnya, pasti setuju kenapa aku jatuh cinta dengan selat ini.
  7. Transportasi yang bagus dan terintegrasi. Hampir seluruh wilayah Istanbul bisa dijangkau dengan transportasi umum. Kendaraan umumnya juga nyaman dan bersih. Mau naik apa? Bus? Kereta api bawah tanah? Tram? Kapal? Kereta gantung? Tinggal pilih saja. Ketika ingin nyaman berjalan-jalan, punya mobil bukanlah suatu keharusan.
  8. Menikmati empat musim. Aku selalu bermimpi untuk bisa tinggal di negara empat musim. Kukira Istanbul adalah pilhan yang tepat. Tak terlalu panas di kala musim panas, dan tak terlalu dingin di musim dingin. Aku yang berasal dari negara tropis ini tak akan begitu terkejut dan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan musim.

Jadi, sudah mengertikan kenapa aku memilih Turki.

Advertisement

7 comments

    • Halo Mbak Sri Andani. Terima kasih sudah berkunjung ke blog aku. Sebenarnya, aku sudah lulus kuliah, dan sudah meninggalkan Turki. Namun, karena kenangannya banyak, supaya ngga lupa, aku putuskan bikin blog tentang Turki, khususnya tentang kehidupanku di istanbul dan perjalanan menyelusuri Turki. Wah, anaknya studi di Ankara ya Mbak. Semoga sukses studinya ya 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s