Cara Mengurus Izin Tinggal (IKAMET) Di Turki


Izin tinggal di Turki. Untuk alasan keamanan, semua informasi telah disamarkan

Mengurus izin tinggal adalah hal yang paling merepotkan selama tinggal di Turki. Setiap pelajar yang akan tinggal lebih dari tiga bulan, diharuskan untuk memiliki izin tinggal, atau resident permit, atau dalam bahasa setempat dikenal dengan nama IKAMET. IKAMET ini bukan hanya momok untuk para mahasiswa asing. Ketakutan yang ditimbulkannya juga dihadapi oleh setiap orang yang berniat untuk bermukim di Turki dalam jangka waktu lama.

Kenapa menakutkan? Karena dokumen yang diperlukan cukup banyak dan ribet. Karena situasi yang hiruk pikuk dan penuh ketegangan di kantor imigrasi. Karena, pihak imigrasi punya hak untuk menolak izin tinggal siapa saja yang mereka anggap tidak memenuhi syarat untuk tinggal di Turki. Dan hanya mereka dan Tuhan yang tahu alasan kenapa mereka menolak seseorang untuk bermukim di Turki. Meskipun kantor bagian International Students di kampus Bilgi sudah menenangkan bahwa semua akan baik – baik saja, namun hati ini tetap ketar – ketir.

Di hari kedua pendaftaran ulang, aku mengunjungi Mrs Burcak di kantor bagian International Students. Dia adalah focal point untuk mahasiswa asing di kampus Bilgi. Mrs Burcak orangnya ramah dan cantik. Dia menyambutku dengan senyuman lebar. Setelah berbasa – basi, Mrs Burcak menjelaskan apa saja yang perlu kulakukan untuk mendapatkan Ikamet tersebut. Dia memberiku sejumlah list yang harus kulengkapi sebagai syarat untuk mendapatkan izin tinggal.

Adapun dokumen yang harus kusediakan adalah:

  1. Formulir pendaftaran yang telah diisi dan di cetak berwarna. Formulir ini bisa diisi melalui link yang diberikan kantor Imigrasi Turki. Untuk informasi lebih lanjut,  bisa dilihat di SINI.
  2. Passport beserta visa pelajar yang berlaku selama tiga bulan.
  3. Foto kopi akte kelahiran.
  4. Surat keterangan nama orang tua dari kedutaan Indonesia. Di Turki, ketika menuliskan nama seseorang berdasarkan First Name dan Family Name. Sementara di passport Indonesia, biasanya nama lengkap dituliskan secara bersamaan. Karena itu,  aku butuh penegasan dari Kedutaan Besar RI. Surat ini kudapatkan dari Konsulat Jenderal RI di Istanbul.
  5. Foto kopi KTP.
  6. Pas Photo.
  7. Surat keterangan dari universitas atau biasa disebut dengan student certificate.
  8. Surat keterangan bukti finansial. Untuk hal ini, aku mendapatkan surat dari universitas yang menjamin akan kekuatan finansialku.
  9. Kontrak rumah selama bermukim di Turki. Saat itu, aku juga mendapatkan surat dari universitas sebagai jaminan. Karena itu, aku menuliskan alamat kampus sebagai alamat rumah. Namun, hal ini tidak berlaku lagi di tahun 2017. Sehingga, memiliki kontrak rumah yang valid adalah satu keharusan.
  10. Asuransi kesehatan dari perusahaan asuransi di Turki, selama jangka watu tinggal di Turki. Asuransi yang berasal dari perusahaan asuransi asing, tidak diterima.
  11. Nomor pajak. Ini kudapatkan dari salah satu kantor pajak terdekat, yang terletak di kawasan Sirkeci. Beberapa kantor pajak tesebar di berbagai lokasi di Istanbul.
  12. Membayar biaya pencetakan kartu sebanyak 50 TL. Mahasiswa tidak dikenakan biaya untuk mendapatkan IKAMET. Biasanya, setiap orang akan dikenakan biaya sekitar 400-1000 TL per orang, tergantung dari negara asal.

Mrs Burcak menjelaskan bahwa petugas imigrasi berniat akan datang ke kampus untuk mempermudah mahasiswa akan pengurusan IKAMET. Namun, Mrs Burcak tak bisa memastikan tanggalnya. Aku yang selalu khawatir memikirkan visa pelajarku yang akan segera berakhir, berniat untuk mencoba peruntungan ke kantor imigrasi. Mrs Burcak mengatakan tak ada salahnya untuk mencoba.

Aku datang ke kantor Imigrasi di Fatih, di tanggal yang tertera di formulir pendaftaran. Aku tiba di sore hari. Dan keadaan sudah sangat ramai. Memasuki kantor imigrasi, harus melalui berbagai mesin X Ray. Dan macam – macam pertanyaan yang diberikan petugas mengenai kepentinganku di sana. Akhirnya, setelah setengah jam berjuang, aku menemukan tempat di mana aku harus melakukan wawancara.

Di ruang tunggu, orang – orang menunggu dengan berjubel. Berbagai macam bentuk dan rupanya. Ada yang berambut pirang dan bermata biru, ada yang bertampang hispanik, ada yang bertampang seperti orang – orang dari Asia Selatan, Cina, Afrika, dan lain sebagainya. Dan ada pula yang bercadar. Suasana hiruk pikuk. Seperti di tengah pasar saja. Kudengar  petugas berteriak-teriak berusaha untuk menenangkan orang – orang. Namun, usahanya tak berhasil. Akhirnya aku hampir tiba di depan pintu. Di depanku, berdiri seorang pria dan wanita bercadar. Seorang petugas tidak mengizinkan si pria ikut.

“Dia harus masuk sendirian. Yang tidak berkepentingan dilarang masuk,” kata si petugas.

“Tapi dia tak bisa bahasa Turki,” balas sang pria.

“Jangan khawatir. Petugas kami di dalam bisa berbahasa Inggris dan Arab,” kata sang petugas lagi.

“Dia tak bisa dua bahasa itu. Dia hanya bisa bahasa Persia.” Sang petugas mati kutu. Dengan berat hati terpaksa dia mengizinkan pria itu masuk ke dalam ruangan.

“Giliranmu, Miss,” katanya sepuluh menit kemudian. Dia membukakan pintu untukku. Di dalam, ada sekitar 6 meja dengan masing-masing petugas di setiap meja. Mereka semua berwajah ketat, capek, dan hampir marah. Tak ada satupun yang tersenyum. Aku memilih petungas yang terdekat. Ketika aku mendekat, dia berkata, “Just Arabic” katanya dengan tampang masam. Wajahnya benar – benar tak ramah. Aku memberinya nick name dalam hati ‘evil face

Akhirnya, ada petugas yang memanggilku. Dia mengecek berkas-berkasku. Setelah meneliti setiap dokumen, dia berkata,

“Miss Nurul. Semua dokumenmu sudah lengkap. Namun, aku baru saja mengecek kalau universitasmu ada di dalam list yang akan kami kunjungi. Jadi, simpan dokumen ini. Jangan sampe hilang. Ketika petugas kami datang, kau tinggal menyerahkan ini saja,”

Aku mengucapkan terima kasih. Si petugas menjawab, meskipun tanpa senyum. Ketika keluar dari ruangan, aku kembali disambut dengan suara hiruk pikuk. Dengan berbagai bahasa yang tak kumengerti, bahkan tak pernah kudengar sebelumnya. Mencoba menempatkan diri sebagai petugas imigrasi, aku membayangkan diriku bekerja di tempat ini. Di kantor yang sama, pekerjaan yang sama, berhadapan dengan orang-orang yang tak sabaran, menghadapi orang – orang dengan bahasa yang tak kumengerti. Well, memikirkan itu semua, tak heran orang – orang di ruangan itu bertampang ketat.

Esoknya, aku mengunjungi Mrs Burcak dan menceritakan pengalamanku.

“Kabar baik, Nurul. Aku baru saja mendapat email dari kantor imigrasi. Mereka akan datang ke universitas kita tanggal 5 November,” Mrs Burcak memberikan kabar.

“Oh. itu berarti hanya dua minggu sebelum visa pelajarku berakhir. Kudengar, butuh waktu sebulan untuk mendapatkan kartu tersebut. Bagaimana kalau ada pengecekan kartu identitas,” aku mulai cemas.

“Jangan khawatir. Kau akan diberikan surat keterangan kalau izin tinggalmu sedang dalam proses. Selama kau memiliki surat itu, kau aman,”.

Tanggal 5 November, aku datang menuju tempat yang telah ditentukan. Aku tak sendirian. Maria datang bersamaku. saat aku tiba, Umarah juga sudah berada di sana. Kami sengaja datang cepat, agar bisa diproses lebih awal. Lagi pula, hari itu aku dan Maria harus masuk kelas Politic of Energy. Aku tak mau melewatkan kelas, karena hari itu Professor D.K berjanji untuk memutar film dokumenter tentang pencarian minyak di Timur Tengah. Dan lagi, aku suka gaya Professor D.K menerangkan di dalam kelas. Beliau selalu enerjik dan bersemangat, menceritakan perseteruan negara-negara adikuasa untuk menguasai energi di muka bumi ini.

Aku dan Maria terduduk di atas koridor yang berlantaikan kayu, sementara Umarah berdiri di sebelah kami. Dia tak mau duduk karena kebetulan mengenakan jeans berwarna putih. Sementara aku dan Maria, dengan jeans berwarna gelap, kami tak perduli mau duduk dimana saja. Ketika tengah mengobrol, tampak seseorang berjalan menuju ke arah kami. Sepertinya kukenal wajahnya.

Oh my God. That’s the evil guy,” seruku tak percaya. Dia tak lain dan tak bukan staf imigrasi sok yang kutemui ketika aku datang ke kantor imigrasi.

“Oh. Kau pernah ketemu dengan dia?” tanya Umarah dengan tampang sebal.

“Ya, di kantor imigrasi. Dan dia sedikit sok,” jawabku.

“Aku juga ketemu dia. Dia berbicara kepadaku sambil setengah membentak,” kata Umarah lagi sambil cemberut. Aku berdoa semoga tidak usah berurusan dengan si Sok ini.

Setengah jam kemudian, aku tiba di depan meja para petugas imigrasi yang telah didatangkan dari kantor imigrasi. Aku tidak mendapatkan si Sok, namun temannya yang berwajah bundar dan chubby. Dia tidak terlalu lancar berbahasa Inggris, namun dia melayaniku dengan sangat baik sekali.

“Jangan khawatir. Kartumu akan tiba dalam jangka waktu 1 hingga 4 minggu,” katanya menenangkanku.

Oh ya, Umarah mendapatkan si Sok, yang ternyata fasih sekali berbahasa Inggris. Namun, hari itu dia tidak begitu menyebalkan. Kami bertiga cukup puas dengan pelayanan dari kantor imigrasi.

Dua minggu berikutnya, seseorang dari kantor international students meneleponku, mengabarkan bahwa IKAMET ku telah tiba. Kartu sakti berwarna merah jambu itu telah tersimpan rapi di dalam dompet. Dan mulai hari itu, aku telah resmi berstatus Istanbulite.

Advertisements

4 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s