Debat, Oh Debat.


Foto menunjukkan debat para scholars di masa lampau. Sumber foto: Wikipedia. https://en.wikipedia.org/wiki/Debate

Hari yang dinantikan itu pun tiba. Debat di kelas Theory of IR. Satu jam sebelum kelas dimulai, kelompok debatku sudah berkumpul di salah satu aula kosong, untuk memastikan kelompok kami tak kurang apapun. Ini adalah ketiga kalinya kami berkumpul, sebelum debat yang sebenarnya dimulai.

Pertemuan pertama dilakukan minggu lalu, hanya sehari setelah Professor M.O memberikan tugas debat. Salah seorang teman yang cukup aktif, langsung mengingatkan bahwa kami perlu bertemu. Pertemuan diisi dengan diskusi dan pembagian tugas. Jangan ditanya bagaimana kelakuan teman-temanku ketika berdiskusi. Mereka berbicara seolah-olah jika  Jean-Jacques Rouessau dan Thomas Hobbes adalah teman masa kecil mereka. Tidak seperti aku yang baru mengenal dua orang ini kurang dari seminggu. Mereka juga menyebut nama-nama asing yang tak pernah kudengar sebelumnya. Seperti Kant, Waltz dan sejenisnya. Aku hampir berpikir, mereka berbicara soal dansa ketika menyebut Waltz. Setelah mendengarkan selama sepuluh menit, aku baru sadar jika yang mereka bicarakan adalah Kenneth Waltz, salah seorang pencetus aliran teori neorealisme. Shame on Me. Sementara Deniz, seorang teman yang selalu bersemangat ketika kami tiba di bagian filosofi, selalu membawa sebuah buku tebal bak kitab kemana-mana. Aku langsung mulas, begitu melihat judulnya, “The Philosophy of Socrates” .Menurut Deniz, itu adalah buku favorite nya ketika dia menempuh pendidikan Strata 1.

Aku sempat tak tahu harus melakukan apa dan mengatakan apa di diskusi pertama itu. Sementara teman-teman lain, sepertinya sudah memiliki ide akan mengatakan apa di kelas debat minggu depan. Akhirnya, kami sepakat, jika kelompok kami akan dibagi berdasarkan tugas. Intissar, mahasiswa berjilbab yang berasal dari Syria itu bertugas untuk mempersiapkan slide presentasi. Aku agak sedikit iri dengan keberuntungan Intissar. Menyiapkan presentasi, berarti bisa mengelak dari kewajiban debat yang panjang. Maria mengambil bagian untuk menjelaskan konsep dasar pemikiran Rouessau. Sementara Nasir, dia akan melahap kelompok lawan, mempertanyakan kekurangan-kekurangan konsep dari Mr Hobbes. Hille, yang sejak awal sudah berceloteh mengenai sejarah, diberi tugas untuk bertanggung jawab untuk menceritakan sejarah Mr. Rouessau. Beberapa teman lain juga sudah mendapatkan tugas sendiri-sendiri. Masih aku yang bingung harus melakukan apa.

Hey Nurul. What about sharing the task with me. The history was quite long. We can work together on it,” usul Hille. Yes. Nah sekarang aku punya tugas untuk mempresentasikan bagian sejarah dari Rousseau. Kuharap ini bisa menjauhkan aku dari debat.

Aku dan Hille bertemu tiga hari berikutnya. Sekedar memastikan bahwa tugas kami tak  tumpang tindih. Setelahnya, kami setuju untuk berkomunikasi melalui whatsapp dan telepon saja. Tak terlalu sulit untuk menuntaskan tugasku. Aku hanya perlu mencari beberapa materi dari sumber terpercaya, membuat satu halaman slide, dan mengirimkannya pada Intissar. Di saat debat nanti, aku akan mengambil waktu selama lima menit untuk berceloteh mengenai masa kecil dan remaja Mr. Rousseau. Menurut Nasir, lima menit akan terlalu lama. Di pertemuan terakhir, kami setuju kalau aku hanya berbicara selama tiga menit. Aku tak keberatan. Makin singkat, makin bagus buatku.

Kami tiba di kelas. Susunan kursi sudah dirubah dengan bentuk berkelompok. Kelompok Hobbes tampknya sudah siap dengan apa yang akan mereka presentasikan. Debat pun dimulai. Rousseau harus memulai lebih awal. Aku mengawali presentasi. Empat puluh menit berlangsung. Kedua tim sudah mempresentasikan jagoan mereka masing-masing. Dan tibalah saat yang paling menegangkan. Puncak dari segala kestressan. Debat.

Disini, Nasir sangat berperan. Perdebatan sengit pun dimulai. Hampir setiap orang mengambil bagian. Hampir setiap orang menyebutkan teori. Hampir setiap orang bolak balik mengangkat tangan untuk berbicara. Mengaku tak pernah belajar Political Science, namun Sera berbicara lancar sekali, seakan dia tengah berada di ruang sidang. Tak heran, Sera seorang pengacara. Maria bolak balik mengkritik Hobbes. Hille selalu berbicara dengan menghubungkan segala sesuatu dari sudut pandang jurnalis. Deniz selalu datang dengan teori filosofi untuk mendukung Rouessau. Hanya satu orang yang duduk terdiam di salah satu sudut. Orang tersebut tak berbicara, tak mengangkat tangan, tak bergeming. Yang dilakukannya hanyalah menulis. Menulis apa saja dari apa yang didengarnya dari perdebatan yang tak dia mengerti ujung pangkalnya itu. Orang itu adalah aku.

Tanpa terasa, tiga jam yang bagiku terasa sangat lama, berakhir juga. Professor M.O sudah memberikan tugas debat yang lain untuk minggu depan. Dimana kami harus memilih antara pendukung atau pengkritik Immanuel Kant. Aku asal saja mengangkat tangan, ketika harus memilih kelompok. Sama seperti debat pertama, tak akan ada bedanya bagiku untuk berada di kelompok mana.

Aku masih duduk di kursi ketika kelas telah bubar. Intissar masih duduk di sebelahku. Kudengar dia bergumam, “Oh. I don’t understand everything,” katanya. Kuberanikan diri untuk menegurnya. Kami tak pernah mengobrol sebelumnya.

Hey. Good debate, isn’t it?” Sapaku basa basi, seakan – akan sok ngerti dengan hasil debat.

Yeah,” jawab Intissar lemah. “But I do not understand many things”

Oh My God. Neither do I,” kataku bersemangat. Seakan-akan kebingungan Intissar adalah keberuntungan buatku. “What was your undergraduate program?” tanyaku tanpa basa basi.

I studied Pharmacy. I know it sounds weird,” jawabnya.

Oh my God. I studied architecture. We are the weirdos,” kataku histeris. Aku seperti menemukan teman senasib sepenanggungan. Tiba-tiba muncul ide di kepalaku.

Intissar. Listen. I think, we are on the same road. We are not the same with these people. We came from science. We understood that one plus one is exactly two. As you, I did not understand what these people talked about. Even I don’t understand many sentences in this book. The words are just too strange from me. If you want, what about studying together? Me and you?”

Aku sebenarnya tak mengharapkan respon antusias dari Intissar karena dia kelihatan sangat pendiam. Namun, Hey… Intissar menyambut ideku dengan sepenuh hati.

Oh Nurul. I love that idea. We can even discuss these sentences together. We can study together. Not just for this class. But for other classes too. If you don’t mind, of course

Oh, That’s perfect. We can set up the day for study day. The day when both of us are free

What about Thursday morning?” saran Intissar.

See you on Thursday, then,”

Mulai hari itu, aku dan Intissar menjadi teman baik.

Advertisements

3 comments

  1. A wonderful story showing how debate doesn’t just divide people, but can bring people together. Don’t worry about not understanding all the details of those philosophers, people spend lifetimes trying to figure it out. (Although I fancy myself Rouessauian at hear and the idea of an absolute good offered by Kant. If not all is lost and without meaning.) I’ve enjoyed your pictures as well. Happy travels.

    Liked by 1 person

    • Thank you for your kind comment. I appreciate that you gave time to read it through translation. I wrote most of the story in Indonesian to reach the Indonesian audiences. However, some posts will be written in English. Thanks again for your kind visit. And enjoy your travel in Indonesia.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s