Menemukan Ketenangan di Mesjid Ortaköy


Masih di minggu yang sama. Meskipun sudah menghabiskan sepanjang sore di Eminönü, aku masih belum menemukan ketenangan. Seharusnya, di Sabtu malam aku tak perlu merasa galau ataupun kesepian. Maria menelepon untuk mengajakku menghabiskan malam di Kadiköy bersama teman-temannya. Namun, aku tengah tak berminat untuk berbasa-basi dengan orang baru. Jadi kukatakan kalau aku agak capek. Sebenarnya bukan alasan yang terlalu dibuat – buat. Aku memang cukup lelah setelah berjalan lama di seputaran Eminönü. Jika diitung-hitung, mungkin aku sudah berjalan sepanjang 5 hingga 10 kilometer. Kaki ini mulai terasa pegal. Jadi, ketimbang menghabiskan malam minggu di luar, aku lebih memilih untuk menonton serial Friends kesukaanku untuk ribuan kalinya (mungkin sedikit hiperbola).

Di Minggu pagi, aku cukup aktif. Membereskan apartemen mungilku, mencuci pakaian, menyetrika, hingga masak makan siang sederhana ala anak kos. Sebelum makan siang, Nasir meneleponku, bertanya apakah aku mau bergabung untuk makan burger bersama teman-temannya malam nanti di Besiktas. Besiktas adalah kawasan yang penuh dengan restoran, cafe, dan tempat minum. Aku masih dalam situasi mood yang tak menentu. Kukatakan padanya, akan kukabari nanti sore. Well, Nasir sepertinya mengerti kalau aku tengah tak enak hati.

Ok, Nurul. Take your time. Well, in case you want to join us, we’ll be at Black Angus,”

Usai makan siang, aku mendapat text Whatsapp dari Sonya, sahabatku di Indonesia. Sonya mengirimkan sebuah foto mesjid, yang selalu kulihat di brosur-brosur wisata di Istanbul. Hanya sebaris kalimat yang menyertai foto tersebut, “Sepertinya tempat ini asyik untuk duduk-duduk sore,”

Aku segera mencari nama mesjid tersebut melalui google. Ternyata itu adalah Mesjid Ortaköy. Tak susah menuju ke sana. Bus DT1 yang melewati Harbiye, bisa membawaku langsung ke sana. Aku langsung memutuskan untuk menghabiskan sore di sana. Aku masih punya persediaan kopi dan beberapa kue kering. Setelah memasukkan beberapa potong kue ke dalam kotak makan siang, membuat kopi dan menyimpan di botol air tahan panas, aku bergegas menuju Ortaköy.

Meskipun hari itu hari Minggu, aku tak terlalu kesulitan untuk mendapatkan tempat duduk di dalam bus. Aku duduk dengan tenang, dari Harbiye hingga bus membawaku tiba di Ortaköy. Setiba di sana, semangatku langsung berubah drastis. Seakan ada enerji positif yang masuk tiba-tiba ke dalam jiwaku yang sedikit beku. Untuk menuju mesjid, aku harus melalui beberapa jalanan kecil. Lewat di jalanan ini sangat menyenangkan. Dengan jalanan yang dilapisi susunan batu cobble  dan toko – toko unik di kiri kanan jalan. Macam – macam yang ditawarkan. Dari perhiasan, pakaian, kerudung, t shirt, topi, syal, hingga souvenir dengan lambang-lambang Istanbul. Di ujung jalan, seorang bapak tua tengah melukis seseorang. Rupanya si Bapak adalah pelukis jalanan, yang menawarkan jasa untuk melukis wajah orang-orang yang lewat. Sementara, di sudut lain, seorang perempuan tengah membuat souvenir yang terbuat dari kawat. Dia sibuk memotong dan menjalin kawat-kawat tersebut. Hanya melihat – lihat saja, sudah membuatku gembira.

Pedagang souvenir di seminar mesjid Ortaköy.
Pedagang souvenir di seminar mesjid Ortaköy.

Setelah tiba di ujung jalan, aku langsung berhadapan dengan alun-alun kecil yang menghadap ke laut. Di tengah alun – alun, terdapat banyak burung merpati. Jika ingin memberi makan merpati, pengunjung bisa membelinya melalui pedagang keliling yang biasanya berdiri di sana. Seorang anak kecil, sibuk mengejar-ngejar merpati dan membuat mereka berterbangan. Sementara di sebelah kanan alun-alun, terdapat pelabuhan kecil untuk kapal berlabuh. Tak banyak kapal yang berlabuh di sana. Kurasa, kebanyakan hanyalah kapal pribadi atau kapal yang mengadakan tur khusus yang berlabuh di sana, seperti kapal tur Bosphorus, misalnya Hanya beberapa meter dari sana, mesjid Ortaköy berdiri dengan anggun. Ada sebuah dermaga kecil yang menjorok ke laut, yang menjadi spot bagus untuk berfoto. Jika berdiri di dermaga ini, kita bisa mendapatkan foto cantik dengan background mesjid Ortaköy secara keseluruhan. Dari sini, aku juga bisa melihat jembatan Bosphorus (yang sudah berganti nama menjadi jembatan 15 Juli. Namun, banyak orang masih menyebutnya sebagai jembatan Bosphorus), dengan kendaraan lalu lalang di atasnya.

Mesjid Ortaköy, Istanbul. Ketika aku baru tiba, langit sangat berawan.
Salah satu kapal pribadi yang tengah berlabuh di tengah selat.

Berbagai cafe yang menawarkan makanan khas Turki juga tersedia. Selain itu, ada toko es krim, warung teh dan kopi, serta toko yang menjual kue kering. Namun, makanan yang paling terkenal di sini adalah kumpir. Kumpir seperti makanan cepat saji ala Turki. Terdiri dari kentang raksasa, yang isinya dikeluarkan sehingga kentang bisa menjadi wadah. Nah, kentang ini akan diisi dengan berbagai makanan, seperti jagung, kacang, buah zaitun, sosis, tomat, keju, dan isi kentang yang sudah dikeluarkan tadi. Kemudian, semuanya akan ditaburi saos di atasnya. Jujur, aku tak terlalu suka dengan kumpir ini. Aku hanya pernah mencicipi sekali saja dan tak berminat untuk mengambil fotonya.

Namun, perlahan langit mulai cerah kembali.
Jembatan Bosphorus yang terlihat jelas dari Mesjid Ortaköy.

Setelah mengambil beberapa foto, aku duduk di salah satu bangku kayu sambil menikmati kopi yang kubawa dari rumah. Tak lama setelah aku duduk, rombongan ibu – ibu dari Arab melewatiku. Salah satu dari mereka bertanya apakah mereka bisa duduk bersamaku di bangku kayu tersebut.

“Tentu saja,” jawabku.

Ternyata, ibu-ibu tersebut rombongan turis dari Lebanon. Ibu yang pertama kali bertanya padaku memperkenalkan dirinya sebagai Ibu Raja. Setelah mengetahui bahwa aku berasal dari Indonesia, si ibu menjadi sangat antusias.

Oh, you know, Nur,” (Nur. Begitu dia memanggilku). “I had flatmate from Indonesia when I took my doctoral program in Chicago. We cooked ‘mie goreng’ together. Special noodle from Indonesia,

Si ibu menawariku untuk menikmati kacang yang dibawanya dari Lebanon. Aku pun teringat dengan beberapa kue kering yang kubawa dari rumah. Kami saling bertukar snack dan cerita. Setelah mendengar ceritaku si Ibu berujar,

“Oh. Kau beruntung sekali, Nur. Kau sudah berkeliling banyak negeri di umur yang masih muda. Kektika aku seusiamu, aku tak punya banyak kesempatan untuk berjalan-jalan,”

Entah kenapa, kata-kata ibu Raja membuatku sedikit tersentak. Selama ini aku tak terlalu menyadari bahwa aku adalah orang yang beruntung. Setelah beberapa saat, ibu Raja undur diri, karena mereka masih memiliki rencana perjalanan yang lain. Kami bertukar nomor telepon. Sudah hampir tiga tahun berlalu, namun hingga hari ini kami masih saling bertukar kabar.

Please put Lebanon on your list. When you come, you will stay at my place and I will take you around,” kata ibu Raja sebelum mengucapkan selamat tinggal.

Sepeninggal ibu Raja, aku masuk ke dalam Mesjid Ortakoy. Mesjid ini tak terlalu besar. Namun, interiornya cukup indah. Menurutku, tak kalah dengan Mesjid Biru dan Mesjid Süleymaniye. Hanya kalah besar saja. Dibangun pada tahun 1853 hingga 1855, mesjid  ini mewakili contoh terbaik arsitektur di saat-saat terakhir kesultanan Ottoman. Letaknya yang berada di tepi selat Bosphorus dengan jembatan Bosphorus yang melintas, membuat mesjid ini menjadi salah satu icon khusus yang menggambarkan keindahan Istanbul. Apalagi dengan bayangan mesjid yang bisa dilihat melalui pantulan air, membuat mesjid ini terlihat magis. Mesjid Ortaköy seharusnya bergaya baroque, namun dikarenakan adaptasi Ottoman terhadap arsitektur Eropa yang cenderung menunjukkan keberagaman dan keaslian, akan lebih cocok jika dikatakan bangunan dengan gaya campuran kesultanan Ottoman. Arsitek dari mesjid ini adalah Nigogos Balyan, dimana beberapa rancangannya tersebar di penjuru kota Istanbul.

Detail tampak depan Mesjid Ortaköy.
Mesjid Ortaköy memiliki dua minaret. Ini adalah salah satu minaret.
Mesjid Ortaköy memiliki dua minaret. Ini adalah salah satu minaret.
Detail tampak samping Mesjid Ortaköy, dengan Jembatan Bosphorus.

Bagian utama dari mesjid ini, yang diperuntukkan sebagai tempat sholat, berbentuk persegi dengan luas yang tidak terlalu besar. Sementara, langit-langitnya berbentuk kubah yang dilapisi dengan mosaic merah muda. Bangunan ini memiliki dua minaret yang dibangun dengan menggunakan material batu putih. Untuk pengunjung, mesjid ini dibuka setiap hari, mulai dari pukul 9 pagi hingga pukul 6 sore. Namun, jika pengunjung ingin beribadah, tentu saja mesjid masih menerima pengunjung hingga waktu sholat Isya. Pengunjung diharapkan berpakaian sopan ketika memasuki mesjid.

Ruang sholat Mesjid Ortaköy
Ruang sholat Mesjid Ortaköy
Lampu – lampu kristal sebagai penerang di malam hari.
Jendela-jendela yang besar dan tinggi sebagai media pemasukan cahaya matahari.
Kubah Mesjid Ortaköy

Mesjid ini juga memiliki jendela yang besar dan tinggi. Pada siang hari, sinar matahari yang masuk melalui jendela menjadi sumber pencahayaan utama. Sungguh menentramkan duduk di mesjid ini, terutama di bagian yang berdekatan dengan jendela dimana aku bisa melihat pantulan air laut, dan kapal-kapal yang datang dan pergi. Saat duduk disana, seakan beban berat yang kurasakan sepanjang minggu berangsur – angsur menghilang. Sungguh menenangkan.

Di salah satu sudut, dengan jendela.

Ketika aku sedang duduk di salah satu sudut, sambil mengamati pemandangan di luar jendela, seorang perempuan muda berjilbab mendatangiku. Dia mengira aku adalah salah satu anggota rombongannya. Ternyata, perempuan yang bernama Halimah ini mahasiswa asal Thailand yang sedang menempuh studi di salah satu universitas di Istanbul. Begitu tahu kalau aku berasal dari Indonesia, Halimah langsung berbahasa Melayu. Kami pun bertukar cerita. Halimah bercerita jika dia tinggal di asrama bersama beberapa temannya yang juga berasal dari Thailand. Begitu tahu aku tinggal sendiri, Halimah langsung berkata,

“Oh. Kakak beruntung sekali. Bisa menyewa apartemen sendiri. Saya harus berbagi kamar dengan tiga orang teman yang lain,”

Mendengar komentarnya, lagi-lagi membuat aku terenyuh. Ini kedua kalinya dalam sehari, aku diingatkan sebagai orang yang beruntung. Mengingat kelakuanku di akhir minggu, mau tak mau aku merasa malu dengan diri sendiri. Seperti orang yang kufur nikmat saja. Hanya karena kuliah yang susah dan sedikit permasalahan hidup, aku menghabiskan sepanjang minggu dengan mengasihani diri dan bermuram durja. Padahal, banyak sekali nikmat yang sudah kudapatkan.

Aku sudah mendatangi banyak tempat di dunia ini. Aku bisa melanjutkan studiku yang sudah kucita-citakan sejak lama, terlepas dari pengorbanan yang harus kulakukan untuk mencapai itu semua. Aku tinggal di kota yang selalu kuimpikan untuk bisa kutinggali. Aku tinggal di kota megapolitan, dan salah satu kota paling mengagumkan di dunia. Aku bisa tinggal sendiri di apartemenku, sementara teman-temanku yang lain harus berbagi tempat tinggal. Aku tinggal di kawasan strategis, bahkan teman-teman Turki ku selalu berkomentar begitu mengetahui lokasi tempat tinggalku, “Oh, Nurul. Kau tinggal di kawasan bagus” Keadaan finansialku masih bisa untuk mengatasi berbagai masalah keuangan. Maka, nikmat mana lagi yang aku dustakan? Maka kuputuskan, sejak hari ini, aku akan lebih bersemangat.

Mesjid Ortaköy, ketika langit mulai redup.
Mesjid Ortaköy, dan senja mulai menyapa
Mesjid Ortaköy dalam ‘Blue Hour’
Detail tampak Mesjid Ortaköy dalam ‘Blue Hour’
Mesjid Ortaköy di malam hari

Langit sudah gelap. Angin musim gugur juga sudah mulai berhembus dingin, menggigit kulit. Kuambil telepon genggamku, dan menelepon Nasir.

Hey Nurul. I am at Black Angus. Are you coming?”

I am. In 15 minutes, I’ll be there,”

Do you want me to order something for you, so you can eat directly once you’re here,”

Sure. Beef cheese for me, please,”

Alright. See you soon,”

Kumatikan telepon genggamku. Sekarang, saatnya bersantai di Besiktas untuk mengakhiri minggu.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s