Awal Mula. Istanbul, Aku Datang


Istanbul

Ok. Be cool. Aku menarik nafas berulang – ulang. Berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Di mana aku saat ini?  Oh, ingat. Aku baru saja tiba di Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur. Dan dalam lima jam lagi, aku akan terbang menuju Istanbul. Yes, Istanbul, saudara – saudara. Kota, dimana aku selalu bermimpi untuk bisa tinggal di sana. Aku menarik nafas berulang-ulang, seakan tak percaya kalau aku tengah menjalani separuh mimpiku.

Ini bukan kedatanganku yang pertama kalinya ke kota cantik itu. Aku tak ingat, sudah berapa kali aku menjejakkan kaki di kota nan menawan tersebut. Ketika berdomisili di DRC selama enam tahun, aku sering menggunakan Istanbul sebagai kota transit. Dan, kota untuk melarikan diri dari kenyataan, ketika aku mendapatkan privilege untuk meninggalkan DRC selama 7 hari kalender untuk mengendorkan syaraf-syaraf yang tegang.

Kedatanganku kali ini agak berbeda dari kedatangan – kedatangan sebelumnya. Jika sebelumnya aku datang sebagai turis, maka kali ini aku akan datang untuk menetap. Tak sabar rasanya untuk menjadi Istanbulite. Aku juga tak sabar ketika orang – orang bertanya, “Dari mana asalmu. Sudah berapa hari di Istanbul?” Dan aku akan menjawab dengan bangga, “Oh. Aku bukan turis, aku tinggal di sini,”

Adapun tujuanku untuk menetap adalah untuk melanjutkan pendidikan. Setelah pemikiran yang panjang, pertimbangan sana sini, dan akhirnya aku memutuskan untuk  memilih Istanbul sebagai tempat untuk mengemban ilmu. Keputusan ini kuambil setelah kedatanganku terakhir kalinya sebagai turis. Saat itu, hanya tinggal dua bulan saja sebelum kontrak kerjaku berakhir. Dan aku, masih belum bisa memastikan apa yang akan aku lakukan.

Sebenarnya, aku sudah yakin 79 persen kalau aku akan melanjutkan studi setelah 10 tahun bekerja tanpa henti. Namun, aku belum yakin negara mana yang akan kupilih sebagai pemberhentian selanjutnya. Aku sudah mendapatkan surat penerimaan dari Universitas Bradford di Inggris untuk jurusan Development Study. Namun, aku belum merasa yakin seratus persen kalau aku benar – benar mau bermukim di negeri Pangeran Charles itu. Lagipula, saat itu aku juga tengah menunggu kabar dari Universitas Bochum di Jerman, masih untuk jurusan yang sama.

Saat itu, aku tengah memanfaatkan kesempatan berlibur terakhir kalinya sebelum mengakhiri masa kerja. Aku yang lagi tak bersemangat untuk mengeksplorasi negara baru, akhirnya kembali memilih Turki sebagai destinasi beristirahat. Di hari ketiga di sana, temanku Sebastian mengirimkan pesan melalui Whatsapp, bertanya dimanakah aku gerangan. Ketika mengetahui lokasiku, Sebastian berkata, “Oh My. Kamu pasti cinta banget sama Istanbul. By the way, bagaimana jika kamu sekolah di Istanbul saja. Sekalian kamu bisa tinggal di sana kan,”

Benar juga ide Sebastian. Sepulangnya dari Istanbul, aku mencari informasi tentang universitas di Turki. Namun, aku tidak menemukan jurusan Development Study seperti yang kulamar ke universitas Jerman dan Inggris. Namun, aku menemukan jurusan International Relations (IR), jurusan yang juga tengah diambil oleh Sebastian di Colombia. Sebastian senang sekali waktu kukatakan, aku mungkin akan mempertimbangkan IR sebagai jurusan yang akan kuambil untuk pendidikan strata 2. “Asyik. Aku punya teman untuk berdiskusi sekarang,” katanya senang.

Maka, dimulailah proses pencarian universitas. Ada dua hal yang perlu digaris bawahi untuk universitas – universitas di Turki. Sebagian besar, universitas-universitas itu, terutama universitas negeri, menggunakan bahasa Turki sebagai bahasa pengantar. Tentu saja, aku akan kuliah di Turki. Apa yang kuharapkan? Berbagai tempat kursus tersedia untuk mempelajari bahasa Turki, hampir di setiap universitas. Namun, dengan otak yang pas-pasan dan umur yang tak lagi muda, aku memutuskan universitas dengan bahasa Turki sebagai bahasa pengantar tidak akan menjadi pilihanku. Dalam hal ini, pilihan berikutnya jatuh pada universitas – universitas swasta, dimana sebagian besar program yang ditawarkan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Dan, pilihanku pun akhirnya jatuh pada Istanbul Bilgi University.

Setelah mengirimkan lamaran secara online, aku mendapatkan panggilan untuk melakukan wawancara melalui skype. Dan, sebulan berikutnya aku mendapatkan surat bahwa aku diterima di universitas tersebut. Bingo.

Dan dimulailah proses berikutnya. Pengurusan visa belajar. Dikarenakan aku bersekolah tidak melalui program beasiswa alias dengan membiayai diri sendiri, maka seluruh proses harus dilakukan seorang diri. Segala dokumen mesti lengkap dan meyakinkan. Jika tidak, visa ku bisa ditolak. Ketika proses pengurusan visa tengah berlangsung, muncullah berita itu. Telah terjadi kudeta militer di Turki. Aku sempat bingung menghadapi fenomena ini. Should I go or should I stay? Ah, aku tak bisa memutuskan.

Namun, kudeta tak berlangsung lama. Setelah menonton televisi selama lima jam, mengecek setiap kantor berita, dari BBC, CNN, hingga RT, kudeta dinyatakan berakhir. Dan aku? Maju terus pantang mundur.

Well, tentunya perjuangan tidak berhenti sampai disitu saja. Ketika mengetahui niatku untuk menuntut ilmu di negeri Pak Erdogan, banyak sekali komentar dan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan, seperti,

“Serius mau ke Turki. Kan ngga aman. Banyak bom lho,”

“Kenapa ngga ke Inggris aja. Kan lebih keren,”

“Kok Turki? Terpesona ya dengan aktor-aktor Turki. Mau dapat orang Turki nih?”

Well, begitulah petanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kaum ‘nyinyir’. Dan aku tak mau bersusah – susah untuk menjelaskan 1001 alasanku kepada mereka. Alasan – alasan yang sudah kupertimbangkan selama empat bulan terakhir. Tekadku sudah bulat. Layar kapal sudah sudah berkibar. Dan kapal siap untuk berlayar. So, I don’t care what Naysayers said.

Jika ada yang bertanya, bagaimana dengan masalah finansial? Adakah informasi beasiswa yang bisa kubagikan? Sayang sekali, jawabannya tidak bisa. Karena aku tidak mendapatkan beasiswa dari manapun. Tidak dari pemerintah Indonesia, maupun pemerintah Turki. Dan tidak pula melalui corporate yang biasanya sangat generous memberikan bantuan untuk mencari bibit-bibit unggul. Beasiswa yang kuterima, murni dari diriku sendiri. Hasil kerja selama bertahun – tahun. Jadi, jika Anda gagal mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, jangan khawatir. Karena banyak jalan menuju Roma.

Namun, jika ada yang penasaran bagaimana proses untuk menjadi pelajar di Turki, mungkin bisa menyimak penjelasan yang dipaparkan di bawah.

Browsing Universitas adalah hal pertama yang harus di lakukan. Ada banyak sekali unversitas di Turki yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, jika kamu tidak berminat untuk mempelajari bahasa Turki dalam waktu singkat. Salah satunya, Istanbul Bilgi University, universitas yang akan menjadi tempatku belajar untuk dua tahun ke depan. Setelah melihat kurikulum yang di berikan, aku memutuskan untuk memilih Master of Arts in International Relations, karena ketertarikanku akan materi kuliah yang akan diberikan, dan encouragement dari Sebastian.

Setelah yakin dengan keputusan, kirimkan lamaran di waktu yang telah ditentukan. Biasanya, setiap universitas memiliki link khusus untuk mengunduh dokumen-dokumen yang diperlukan, jadi kita tidak perlu mengirimkan dokumen hard copy. Pastikan, semua dokumen yang diperlukan sudah lengkap.

Jika lamaran kamu masuk short list, maka kamu akan dihubungi untuk wawancara. Karena aku tidak bermukim di Istanbul, aku diberi pilihan untuk melakukan wawancara online melalui skype.

Seminggu kemudian, hasilnya dikirimkan. Dan aku diterima sebagai calon mahasiswa MA in International Relations di Istanbul Bilgi University. Pihak universitas akan mengirimkan Letter of Acceptance yang harus diberikan kepada pihak kedutaan Turki  di Jakarta sewaktu mengurus visa pelajar.

Buat janji untuk pembuatan visa pelajar melalui website kedutaan besar Turki. Link nya bisa di lihat di sini. Upload dokumen, dan pilih tanggal wawancara. Adapun dokumen yang dibutuhkan adalah sbb:

  1. Passport yang masih berlaku
  2. Pas photo metric, 2 buah
  3. Surat pernyataan yang menyatakan tujuan belajar ke Turki
  4. Letter of Acceptance dari universitas
  5. Photo copy ijazah S1 (karena aku akan mengambil master) dan transcript nilai yang telah dilegalisir
  6. Photo copy ijazah S1 dan transcript nilai yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris
  7. Bukti keuangan, yang membuktikan bahwa pelajar mampu membiayai kehidupannya selama di Turki
  8. Fotokopi kartu keluarga
  9. Fotokopi Akte kelahiran
  10. Fotokopi KTP
  11. Asuransi kesehatan yang bisa mengcover kesehatan pelajar selama di Turki. Untuk asuransi kesehatan ini, aku menggunakan travel insurance yang valid untuk 6 bulan saja. Karena, untuk pengurusan resident permit, setiap warga asing diharuskan memiliki asuransi kesehatan yang dikeluarkan perusahaan asuransi di Turki.
  12. Reservasi tiket pesawat (hanya bookingan saja. Tidak perlu membeli tiket sebelum visa disetujui)
  13. Reservasi hotel. Aku hanya melampirkan reservasi hotel selama satu minggu saja.

Dalam 5 hari kerja, visa pelajar ke Turki telah selesai.

Membeli tiket pesawat dan reservasi hotel adalah hal selanjutnya yang harus dilakukan. Jika tiket sudah di tangan, maka kamu siap untuk berangkat ke Turki.

Menjelang tengah malam, pesawatku tinggal landas menuju Istanbul. Aku tak sabar untuk memulai lembaran baru. Istanbul, nantikan kedatanganku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s